Romansa yang Berujung Petaka : Saat Moralitas Tak Lagi Menjadi Penjaga - Reportase24.Com

Breaking

Breaking News

 



Minggu, 01 Maret 2026

Romansa yang Berujung Petaka : Saat Moralitas Tak Lagi Menjadi Penjaga



Refleksi Kritis KAMMI Duri atas kasus Kekerasan di UIN Suska Riau


Duri , 28 Februari 2026 


Tidak pernah kita bayangkan ruang pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi benteng intelektual dan nurani, justru dirundung tragedi kekerasan. Peristiwa pembacokan yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) pada Kamis pagi (26/2/2026) merupakan luka mendalam bagi dunia akademik dan publik Indonesia. 


Sekitar pukul 08.30 WIB di Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, seorang mahasiswi berinisial F (23) dibacok oleh rekannya sendiri, R (21), saat menunggu giliran sidang akademik. Serangan itu dilakukan dengan kapak yang telah dipersiapkan sebelumnya, hingga mengakibatkan luka serius di kepala dan beberapa bagian tubuh. Korban kini menjalani perawatan intensif dan kondisinya dilaporkan stabil pascaoperasi. Sementara pelaku telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka. 


Kasus ini bukan sekadar insiden kriminal biasa. Fakta menunjukkan bahwa pelaku telah merencanakan aksinya sejak November 2025. Membawa senjata tajam ke lingkungan kampus, dan melakukan tindakan brutal tanpa peringatan. Ketidakmampuan kita mencegahnya menyingkap banyak persoalan struktural yang selama ini terabaikan, keamanan kampus, manajemen konflik interpersonal, kesehatan mental mahasiswa, serta budaya etika dan kerukunan di kampus. 


Kejadian ini harus menjadi cermin pahit bahwa moralitas di kampus sedang diuji. Kampus yang idealnya menjadi ruang dialog, diskusi, dan peradaban intelektual malah terseret ke dalam aksi anarkis yang memupus nilai-nilai kemanusiaan. Berdasarkan fakta, yang salah jelas pelakunya, tetapi langkah yang cepat dan tepat harus dijalankan agar kampus segera pulih. 


Kita seluruhnya berduka. Kita bersimpati kepada korban yang menderita. Kita turut prihatin kepada keluarga yang gelisah. Namun, sebagai pemuda yang berpijak pada fakta dan nilai, kita tak boleh terjebak pada kepanikan atau tebar fitnah.


Peristiwa itu benar terjadi di lingkungan kampus.

Sangat tepat kampus tak bisa serta-merta disalahkan sepenuhnya.

Sesungguhnya akar masalah jauh lebih dalam daripada yang terjadi di lokasi kejadian.


1. Fakta, Bukan Spekulasi

Rekaman media dan laporan kepolisian menyatakan bahwa tragedi itu bermula dari konflik personal di luar ranah akademik, bukan pertikaian institusional kampus. Pelaku dan korban bukanlah “korban sistem pendidikan”, tetapi individu yang menempatkan hawa nafsu dan emosi di atas akal dan adab.


Data awal menunjukkan:


- Aksi terjadi di luar jam kuliah formal.

- Tidak ada bukti keterlibatan kelembagaan kampus dalam pemicu konflik.

- Kedua belah pihak sedang berada dalam konteks hubungan sosial yang telah melampaui batas-batas syariat dan adab pergaulan.


2. Menelusuri Akar : Syariat, Akal, dan Nafsu

Banyak di antara kita generasi muda yang terjebak dalam budaya yang meremehkan nilai-nilai kehormatan dan kontrol diri. Ketika hubungan yang seharusnya dijaga dalam batas syariat menjadi dekonstruksi emosional dan jasmani, maka konflik kecil bisa berubah menjadi tragedi besar.


Allah SWT berfirman:


“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji…”

(QS Al-Isrâ’: 32)


Larangan “tidak mendekati zina” bukan hanya tentang perbuatan fisik semata, tetapi tentang menjauh dari situasi yang memancing hawa nafsu, ketidakjelasan, dan kecenderungan destruktif. Ketika kita membiarkan interaksi tanpa adab, tanpa batas yang jelas, dan tanpa tanggung jawab moral, sama saja kita sedang mengundang gejolak yang lebih besar, termasuk konflik dan kekerasan yang seharusnya tak pernah terjadi.


3. Kampus Bukan ‘Sarang Kekerasan’ 

Kampus adalah ruang pembelajaran, diskusi, dan intelektualitas. Bukan arena pembuktian ego tubuh dan emosi. Menyalahkan kampus sepenuhnya sama dengan mengatakan “jalan raya yang bersalah karena terjadi kecelakaan”, itu merupakan simplifikasi yang merugikan semua pihak.


Tetapi Kampus perlu melakukan :

- Memperkuat fungsi bimbingan konseling rohani dan psikologis.

- Meningkatkan pemahaman etika pergaulan Islami dan sosial.

- Menghadirkan kajian adab, emosi, dan resolusi konflik yang konkret.


Namun kita juga sebagai masyarakat harus bertanya:

- Apakah kita telah mendidik generasi agar mengenal batas syariat?

Atau kita membiarkan budaya permisif menyelinap tanpa filter?


4. Solusi: Merawat Hati, Memperkuat Proses

Hanya kritik tanpa solusi adalah sekedar amarah. Maka berikut langkah solutif KAMMI Duri yang mendesak :


A. Revitalisasi Pendidikan Akhlak di Lingkungan Kampus

Termasuk kajian intensif tentang bagaimana menjaga hubungan yang sesuai syariat, bagaimana mengendalikan emosi, dan bagaimana merespons konflik tanpa kekerasan.


B. Kolaborasi Antarlembaga Pendidikan Islam

UIN Suska Riau dapat menjalin kerja sama dengan pesantren, lembaga dakwah, serta organisasi civitas akademika untuk membangun peer support system yang kuat.


C. Konseling Terstruktur dan Sensitif Gender

Mahasiswa membutuhkan ruang aman untuk membicarakan persoalan pribadi tanpa stigma, tanpa judgment, dan tanpa tekanan sosial yang memicu konflik.


D. Pemberdayaan Komunitas Mahasiswa

Aktivitas ilmiah, budaya, dan seni yang menyalurkan energi produktif dan mencegah generasi muda terseret pada konflik destruktif.


5. Merajut Kembali Keutuhan Bangsa

Kekerasan di kampus bukan sekadar headline, ia adalah cermin dari krisis adab, bukan hanya krisis institusi. Marilah kita tidak mudah menyalahkan satu pihak tanpa melihat konteks yang lebih luas. Marilah kita menegakkan keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang dalam menyikapi peristiwa ini.


Semoga tragedi ini menjadi titik balik kesadaran kolektif bahwa ilmu harus diiringi akhlak, bahwa kontrol diri adalah bentuk kemuliaan, dan bahwa kampus harus menjadi benteng pencerahan bukan permusuhan.


Peristiwa pembacokan di kampus UIN Suska Riau harus menjadi momentum perubahan dan bukan sekadar headline berita yang cepat lenyap dari ingatan publik. Dunia pendidikan adalah ladang subur bagi akal sehat, kebebasan berpikir, dan harmoni sosial. Tidak ada tempat bagi kekerasan di sana.


Sebagai gerakan aktivis mahasiswa yang peduli, KAMMI Duri mendesak semua pihak untuk bertindak segera, Pelaku di beri hukuman setimpal dan korban semoga segera pulih dan berusaha menghindari hal hal yang merusak moral yang tidak sesuai dengan syariat. demi menjamin kampus kembali menjadi ruang aman bagi tumbuhnya generasi masa depan Indonesia yang beradab dan berintegritas (ujar Efri ketua KAMMI Duri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar